Jumat, 31 Oktober 2008

social poem

terbangunku dalam hening
semilir angin menusuk tubuh
matahari tersenyum menyambut pagi
kupejamkan mata mengucap syukur pada illahi
khayalanku menembus ruang imajinasi

rentetan gedung megah,mesin mutakhir, dan produk kimia
hadir silih berganti didalam benak
layaknya latar dalam suatu lakon
lakon kehancuran
manusia arogan tersenyum puas
bangga akan kesuksesan fana yg mereka sebut ekonomi,politik,dan antek2nya

dimanakah kau sahabat hijauku?
aku rindu nyanyi dan tarimu saat tertiup angin
warna warni bunga kini pudar, luntur tak berbekas
masih dapatkah kucium bau embun dipagi hari?
hujanpun dirasa sulit menangis
guntur menjerit, meronta, meringis tanpa singkup pasti
seperti partitur musik tersela fermata dan elemen lain
absurd, tak terkendali

panas merajai tubuh merasuk jiwa
teringat kontribusiku merusak alam tercinta
tidak, bukan hanya aku
kita semua,sadar maupun tidak
izinkan aku sejenak berduka yg mendalam
nistamu tak mampu kucegah
perbaikan dan perlambatan kan terus ku berusaha


(my real poem without rima. u PR bahasa indonesia sman 8 jakarta)

1 komentar:

benediktatika mengatakan...

haha fin kemaren gue baru post puisi bahasa gue, ternyata sekarang gue liat di blog lo juga ada puisi lo.